Berita

Menelusuri Jejak Candi Tugu, Merawat Kebudayaan, Menghargai Leluhur, Menguatkan Indonesia

administrator20 Agustus 2026Daerah

SEMARANG, 20 Agustus 2026 – Di tengah perkembangan Kota Semarang, jejak sejarah masih tersimpan di berbagai sudut kota. Salah satunya berada di Kelurahan Tugurejo, Kecamatan Tugu, melalui keberadaan Watu Tugu yang berada di kawasan Candi Tugu.

DPC PDI Perjuangan Kota Semarang melakukan penelusuran langsung ke kawasan tersebut untuk mengenal lebih dekat sejarah dan kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat (19/08/2026). Untuk menuju lokasi dari arah perkampungan, pengunjung perlu melewati sekitar 99 anak tangga, sementara dari sisi utara tersedia akses dengan sekitar 20 anak tangga.

Sesampainya di puncak, Watu Tugu menjadi salah satu peninggalan yang menarik perhatian. Tugu batu andesit dengan tinggi sekitar 2,5 meter tersebut berada di kawasan cagar budaya dan memiliki sejumlah tulisan atau prasasti yang menjadi bagian dari jejak sejarahnya.

Dalam penelusuran tersebut, DPC PDI Perjuangan Kota Semarang mendapat penjelasan langsung dari Sumarto, yang turut mengenal kawasan Candi Tugu. Ia menceritakan berbagai kisah yang berkembang di masyarakat mengenai Watu Tugu.

“Monumen tugu ini, dalam cerita yang berkembang, berkaitan dengan Kerajaan Majapahit dan Pajajaran dan menjadi penanda atau pembatas wilayah,” jelas Sumarto.

Cerita mengenai Watu Tugu sebagai pembatas wilayah Majapahit dan Pajajaran memang berkembang di masyarakat. Namun, hal tersebut belum dapat dipastikan sebagai fakta sejarah. Karena itu, kisah tersebut perlu dipandang sebagai bagian dari cerita sejarah lokal yang masih terbuka untuk ditelusuri lebih lanjut.

Sumarto juga menceritakan kisah mengenai perselisihan di antara pihak kerajaan yang kemudian dikaitkan dengan perpindahan sebagian kelompok ke wilayah timur.

“Dalam cerita yang berkembang, pernah terjadi perselisihan di antara pihak kerajaan. Sebagian kemudian bergerak ke wilayah timur dan bergabung dengan Majapahit,” tuturnya.

Selain kisah kerajaan, kawasan tersebut juga menyimpan cerita mengenai Gua Jepang yang kini telah ditutup. Menurut Sumarto, dahulu terdapat tempat yang digunakan untuk pertapaan dan bersemedi.

“Di dalamnya dahulu terdapat tempat untuk pertapaan dan bersemedi. Masyarakat mengenalnya dengan istilah puasa patigeni,” ujar Sumarto.

Watu Tugu juga memiliki catatan sejarah mengenai pemugarannya. Sumarto menjelaskan bahwa tugu tersebut pernah roboh pada 1938 sebelum kemudian ditemukan oleh seorang ahli purbakala dari Hindia Belanda dan dibangun kembali.

“Pada tahun 1938, tugu ini pernah roboh. Setelah ditemukan oleh seorang ahli purbakala dari Hindia Belanda, tugu tersebut kemudian dibangun kembali,” jelasnya.

Catatan sejarah mengenai Watu Tugu juga menyebutkan adanya prasasti yang berkaitan dengan pembangunan kembali oleh warga Tugurejo. Sementara bangunan yang kini dikenal sebagai Candi Tugu merupakan replika Candi Gedong Songo yang dibuat pada 1984–1985.

Penelusuran DPC PDI Perjuangan Kota Semarang menjadi pengingat bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam peninggalan fisik, tetapi juga dalam cerita yang diwariskan masyarakat. Merawat situs sejarah berarti menjaga ruang bagi generasi muda untuk mengenal perjalanan daerahnya sekaligus memahami kebudayaan yang tumbuh di dalamnya.

Bagi PDI Perjuangan Kota Semarang, menjaga sejarah merupakan bagian dari merawat kebudayaan dan menghargai perjalanan para pendahulu. Dari jejak sejarah yang tetap terjaga, generasi hari ini dapat belajar untuk mengenal akar budayanya dan meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Merawat sejarah, menjaga kebudayaan, menguatkan Indonesia.

sumber gambar: detikcom